September 20, 2011

Pedih

cinta seakan hilang disaat rindu menjadi benci, disaat kasih sayang telah berhenti, disaat kestiaan tiada arti, aku seakan tak mampu menahan emosi disaat luka hati tak mampu tuk aku atasi lagi, aku coba tuk berdiri dan aku langkahkan kaki untuk berlari, bukan maksudku untuk mengakhiri, tapi aku hanya ingin engkau menyadari, bahwa kelakuanmu sungguh menyakitkan hati

by: Halta Gunawan

Sajak Malam

lihatlah sang malam telah menjelma menjadi pujangga, lewat desau angin ia membawa serta irama dari ribuan jiwa yang tengah tersesat dalam ruang hampa, lalu merangkumnya menjadi satu kedalam sebuah sajak bernada sendu, dan melagukannya berulang kali hingga pagi datang membawa harapan baru

Berhenti Berharap

tak kuharap lagi datangnya sang bidadari, cukup dari sini saja wanginya akan kunikmati, mungkin disana ia telah temukan satu arti, merajut warna pelangi dalam buaian taman surgawi

September 13, 2011

aku bukanlah pelakon dari sebuah kisah, yang selalu bisa memainkan peran dengan mudah, kuhanya dapat memandangimu dari tepian, memahami setiap jenis peran yang akan kau mainkan, coba meraba-raba setiap jengkal isi dalam benak hatimu, mencari arti dari setiap cerminan bayang dirimu

September 12, 2011

berulang kali kudapati bayangmu datang meretas, menyisir lembaran memory dalam otakku yang tak kunjung lepas, satu demi satu kau mulai bangkitkan kembali kenangan kita, saat cinta tengah menciptakan kelopak kemegahannya di tiap sudut taman jiwa

Purnama Kali Ini

untuk purnama yang kesekian kali, aku masih saja enggan beranjak dari tempatku berdiam diri, menikmati putaran malam yang lambat berganti, kembali bercumbu dengan bayang-bayang sunyi

Saat Kau Rindu Aku Juga Rasa

kekasihku...

mengapa malam ini sinar matamu terlihat begitu sendu? sepertinya kedua bola matamu sedang menelisik jauh ke dalam ruang pikirmu,

lalu mengapa ruas bibir indahmu ku lihat hanya diam membeku?
seperti sedang menggali berjuta tanya di kedalaman relung hatimu,

apakah malam ini kau merasa begitu rindu?
pada deburan asa yang sempat aku labuhkan di dadamu?
juga pada percikan senyawa kasih yang sempat membasahi seluruh jiwamu?

coba kau katakan semuanya padaku,
tak perlu lagi kau
bersembunyi pada ragu, karena akupun merasa begitu

Cinta dan Nada

jika cinta adalah sebuah nada, maka aku ingin menjadi garputala, meresonansikan setiap denting yang tercipta, hingga getaran terakhir dengan frekuensi yang masih saja sama, setia…

September 9, 2011

Ruang Rindu

tahukah engkau kekasihku? bahwa telah kuciptakan sebuah ruangan, tempat di mana segala hasrat dan keinginanku tertahan, seluruh dindingnya berwarna biru, apabila kau sentuh rasanya sungguh dingin dan beku, ya,,, itu adalah sebuah ruang bagimu yang kuberi nama, RINDU

September 6, 2011

Pelukis Hati

hasratku seketika mulai menari ikuti lentik jemarimu yang kembali melukis warna pelangi dalam pelataran jiwaku, setiap tetes tinta yang kau saput adalah pesona keabadian rasa dengan segenap keindahan yang kau usung untuk menghias dinding hatiku

September 5, 2011

Tenggelam Dalam Bayangmu

sampai saat ini bayangmu masih saja setia berdansa di antara ruang diamku, menebar sejuta keanggunan yang kian mempesonaku, hingga membawaku tenggelam semakin dalam untuk menyelami lamunan sepiku

September 3, 2011

Senandung Pagi Hari

dan ketika udara pagi datang membawa senandungmu, menggembirakan hatiku dengan canda tawamu, seketika mengembanglah kuncup-kuncup layu di taman
kalbuku, namun kini akupun mulai sadar bahwasanya ruang kosong ini masih mengikat erat segenap waktu serta perasaanku dan tak akan pernah terisi lagi oleh pesona keindahanmu

August 26, 2011

Istana Jiwaku

dan kini diriku telah kembali bertahta dalam istana hening dimana sunyi adalah mahkota terindahku dan kesenyapan menjadi singgasana kemegahanku, tak perlu seorang permaisuri yang senantiasa bersanding di sisiku ataupun dayang-dayang yang setiap saat hadir melayaniku, cukup diri ini seorang bersama sejuta impian yang setia mendampingi serta menjaga nafas hidupku

Menjemput Mimpi

seperti semilir angin di penghujung senja, ia begitu sejuk menyapa jiwa, datang menjemput sisa-sisa serpihan asa, yang kembali tertinggal oleh langkah kaki sang surya, lihatlah dia masih mampu tersenyum gembira, dengan balutan rona jingga yang menyaput kedua belah pipinya, secercah harap kini kembali tersampir di antara bahu dan kepala, sebagai bekal untuk mengarungi lautan mimpinya

Hatiku Beku

wahai bidadari, bolehkah sekali lagi aku pinjam selendang pelangimu? siang ini aku ingin kembali memanjat langit, akan ku dekap erat tubuh sang mentari, membiarkan baranya hingga menembus ruang dalam dada, biar cair segenap beku yang melingkupi seluruh dinding hati

August 22, 2011

Aku Dan Kamu

siapa aku siapa kamu tak ada seorang pun yang tahu, aku begini karena telah mengikuti jejak langkah kakimu, jangan mengeluh bila cerminan dirimu kau dapati dari diriku, sekarang kau pun dapat merasakan segala resah yang pernah menyelimuti jiwaku

Arjuna Terluka

baiknya kedua belah sayap ini kubiarkan saja terus mengatup, menutup erat sekujur tubuhku yang penuh luka, sehingga tak akan ada seorangpun yang sanggup, untuk menggoreskan kembali garis kepedihan di dalamnya

August 21, 2011

Rasa Cintaku

aku mencintaimu sebanyak udara yang pernah ku hirup, aku menyayangimu sebanyak nadi ini pernah berdenyut, dan aku slalu merindukanmu hingga seluruh samudera berhenti menjalankan ritual pasang surut

seperti itulah aku mencintaimu, seperti itu juga aku akan menyayangimu, dan seperti itu pulalah makna rinduku padamu

August 20, 2011

Peri Cahaya

duhai peri cahaya,

mengapa engkau masih saja berada di sini? masih asyik bermain-main dalam ruang imaji,

bukankah seharusnya sore ini engkau harus kembali ke angkasa? melukis langit dengan pendar cahaya jingga

segeralah kau gulung tabir yang menyelimuti imajiku, karena dunia sedang menantikan pesona cahaya indahmu

Fallen Angel

pertama kali engkau datang menyapaku dalam diam,
aku tengah terdampar di ujung pelataran malam
terjebak dalam pekatnya ruang sunyi teramat suram,
hanya berteman lamunan sepi dan bayang-bayang kelam

lembut lakumu begitu indah membuai anganku,
meruntuhkan sekat hitam pembungkus imajinasiku
manis tuturmu mengalun syahdu di telingaku,
melunturkan setiap kepingan hati yang terlabur pilu

namun sayang seribu sayang,
bidadariku kini kehilangan sayap yang hanya sepasang
terhempas oleh badai yang begitu kencang,
hingga membuatnya sungguh merasa terguncang

kau yang pernah menjadi inspirasi dalam jiwa,
takkan sanggup kumelihatmu terluka
menahan tangis di antara perih yang kian menyayat jiwa,
terhanyut dalam duka berlinangkan air mata

tabahlah engkau wahai bidadari,
jiwaku membujukmu tanpa henti
biarlah ia berlalu dengan segala kelukaan ini,
tak usah kau bersembunyi dan benamkan diri